Story From Smarinda
NOORSYAIDAH adalah seorang Guru aktif TK Al-Quran di Sangatta , Kutai Timur yang telah berusia 40 tahun. Sejak tahun 1991 tanpa sebab musabab dari perut dan dada perempuan ini bermunculan puluhan batang kawat sepanjang sekitar 10 – 20 cm dan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, apalagi jika kawat tersebut bersinggungan dengan benda apa saja akan menambah rasa sakitnya. Pada awalnya sekitar seminggu kawat-kawat itu berjatuhan sendiri dan hilang. Nanti sekitar sebulan kemudian bermunculan lagi. Namun sekarang ini sudah sekitar enam bulan lebih, kawat-kawat di perutnya ini tidak ada yang jatuh atau hilang.
17 Tahun sudah penderitaan ini ditanggungnya, segala daya upaya sudah dikerahkan dalam usahanya menyembuhkan penyakit yang menyiksanya, namun sampai detik ini belum ada yg dapat menyembuhkannya. Segala upaya pengobatan, mulai dari medis, alternatif, hingga mendatangi orang pintar sudah dilakukannya. Namun, penyakit tersebut tetap tak sembuh. Operasi mungkin sudah puluhan kali dialaminya, tetap saja kawat-kawat itu setelah dicabut dengan cara medis tak mau hilang dari dirinya. Sampai pada akhirnya Ibu ini hanya bisa pasrah dengan derita yg dialaminya, “Mungkin Allah SWT ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa dengan kekuasan-Nya apapun bisa saja terjadi dan sayalah orang yang dipilih untuk memperlihatkan kekuasan-Nya itu. Maka itu saya harus menjalaninya dengan tabah,” kata Noor dengan pasrah.
NOORSYAIDAH tetap tabah menjalani hidup. Shalat lima waktu tak sekali pun ia tinggalkan. Awalnya, ia masih bisa shalat dengan berdiri. Namun, posisi itu membuat perutnya nyeri. Ia lalu melakukannya dengan duduk. Tiga bantal ditumpuk di depannya untuk menahan kepalanya saat sujud agar kawat-kawat yang keluar dari perutnya tidak tertekan
Sejak kecil Noor telah dididik oleh kedua orangtuanya untuk selalu ingat kepada-Nya. Karena itu, ia mencoba untuk tetap tabah dan meyakini bahwa penyakit aneh yang dideritanya ini adalah atas kehendak Allah. Shalat lima waktu tetap ia jalankan sebagaimana selalu ia jalankan selama ini, jauh sebelum kawat-kawat itu keluar dari perutnya.
Noor shalat dengan posisi duduk, tetap menggunakan mukena (pakaian shalat wanita). Agar tidak perlu sujud di lantai–yang akan membuat sakit tak tertahan di dalam perutnya–ia menumpuk tiga bantal di depannya. Di bantal-bantal yang ia selimuti dengan mukenanya itulah ia sujud di dalam salat.
Bantal-bantal itulah yang selama ini menjadi alat penahan agar ia tidak terlalu membungkuk seperti halnya orang-orang sehat ketika posisi sujud. Posisi bungkuk yang berlebihan bisa membuatnya merasakan sakit tak terperi karena kawat-kawat yang ada di bagian perut dan sekitar dadanya itu bisa saling menyentuh atau menusuk bagian kulitnya yang tidak ditumbuhi kawat-kawat aneh itu.
Pernah Noor kembali mencoba-coba untuk shalat dengan posisi berdiri, tetapi hal itu rupanya membuatnya kesulitan. “Ini adalah ujian dari Allah SWT, bagaimana saya harus diuji apakah sanggup untuk menjalaninya atau tidak. Alhamdulillah, khususnya persoalan shalat yang harus mengeluarkan gerak itu, saya tetap bisa melaksanakannya, mudah-mudahan dengan izin Allah juga saya akan tetap bisa melaksanakannya,” kata Noor.
Ketekunanan Noor terhadap persoalan agama juga terlihat di Sengatta, Kutai Timur. Di tempat ia menyalurkan jiwa sosialnya sebagai seorang guru agama ini, Noor rupanya adalah seorang pemimpin majelis taklim dan diakui selama kepemimpinan Noor, majelis taklim menjadi lebih maju dan proaktif melakukan kegiatan-kegiatan sosial.
Noor sangat menginginkan kesembuhan tetapi berkat ketaatannya dengan agama. Ia hanya ingin cara penyembuhan terhadap dirinya itu dilakukan dengan cara-cara yang tidak keluar dari akidah agama Islam.
Untuk mengeluarkan kawat tersebut memang tidak mudah karena kawat sangat melekat erat di badannya. Noor bercerita, pernah suatu saat ia dibantu kakak kandungnya mencoba untuk mencabutnya sendiri, tetapi yang terjadi justru kawat tersebut masuk ke dalam tubuhnya dan beberapa saat kemudian muncul kembali di bagian badannya yang lain.
Kakak kandung Noor, Hj Siti Robiah, menceritakan, penah juga menyaksikan langsung operasi yang dilakukan oleh empat orang dokter spesialis bedah terhadap adiknya itu. Para dokter tersebut bahkan terpaksa menggunakan besi berani (magnet) agar kawat bisa ditemukan dalam tubuh Noor.
“Karena kawat-kawat itu tidak hanya yang bermunculan di tubuh Noor, tapi hasil rontgen memperlihatkan ada puluhan kawat lagi di dalam perut dan di dalam perut itu seperti hidup, bisa lari-lari atau berpindah tempat. Makanya, saat dibedah para dokter terpaksa menggunakan besi magnet agar besi kawat bisa ditemukan dan diambil. Dan itu tadi, setelah diangkat, kawat-kawat itu beberapa hari kemudian bermunculan lagi,” kata Robiah.

“Ya, seperti biasa kawat-kawat lainnya, tapi itu kalau sudah terjatuh dari badannya dia. Tapi, kalau yang melekat di badan bisa berubah-rubah warna, mulai dari hitam pekat, kuning, hingga kembali normal kecoklatan,” tutur Robiah.
Berikut beberapa usaha dan pendapat mengenai penyakit yang diderita Ibu Noor:
1. Pandangan Medis dan Spiritual (Agama)
Direktur Rumah Sakit Abdul Wahab Syahranie Samarinda dr Ajie Syirafuddin MMR mengaku sangat sulit menyebut jenis penyakit yang diderita perempuan berusia 40 tahun itu. Dr Ajie cukup penasaran ingin melihat langsung penyakit yang diderita Noorsyaidah. Melihat pemberitaan Noorsyaidah.
“Memang sangat sulit disebutkan namanya dalam perspektif medis. Untuk perkiraan bahwa penyakit yang diderita Ibu Noor itu bisa saja disebut sejenis larva migran atau seperti ada cacing-cacing yang bermunculan di badan seseorang. Tapi itu juga terbantahkan karena yang tumbuh itu adalah benda keras, apalagi jenisnya adalah besi kawat,” kata Ajie.
Dia juga heran dengan daya tahan tubuh Noor yang selama 17 tahun lebih tak memengaruhi kondisi fisiknya, padahal secara medis besi yang ditanamkan di tubuh seserorang dan tidak menimbulkan efek samping hanya jenis platina, sedangkan besi lainnya tak perlu menunggu waktu lama untuk menimbulkan infeksi atau sejenisnya. “Makanya untuk sementara ini juga, dalam pandangan ilmu kedokteran besi-besi kawat itu sudah beradaptasi dengan tubuh Ibu Noor sehingga tak berpengaruh dengan kondisi fisiknya. Seperti halnya penyakit larva migran yang saya sebutkan tadi adalah hasil adaptasi molekul-molekul di tubuh seseorang yang akhirnya berakibat pada munculnya cacing-cacing,” ujarnya menjelaskan.
Menurut Ajie, untuk sementara ini memang tidak akan membahayakan, selain sudah teradaptasi, dari hasil literatur sementara kawat-kawat itu tumbuh hanya di kulit biasa, bukan di bagian vital.
“Vital yang dimaksudkan adalah misalnya tumbuhnya tepat di jantung. Kalau sudah seperti itu, maka sangat membahayakan sekali dan perlu cepat mendapat perawatan medis. Tapi memang sekali lagi, saya sebagai seorang dokter merasa heran besi kawat yang mudah berkarat itu tumbuh dan kondisi fisik Ibu Noor tak apa-apa, dan sistem pencernaan juga lancar,” katanya.
Ajie mengaku optimistis Noor tetap bisa disembuhkan dengan cara medis, dengan cara harus mendapatkan perawatan intensif dan menggunakan alat-alat canggih. “Setelah di-rontgen kemudian kawat-kawat itu harus diuji laboratorium untuk mengetahui apakah jenis kawat yang dimaksud itu memang hidup atau seperti apa, baru nanti dioperasi. Dan tidak cukup dioperasi sekali, nanti dilakukan operasi selanjutnya untuk mengkrosceknya lebih lanjut,” jelasnya.
Sehari setelah melihat sendiri perut Noor yang mengeluarkan kawat, bahkan langsung menyiapkan sebuah kamar khusus di Ruang Teratai agar Noor bisa mendapat perawatan intensif.
Tak cuma kamar khusus, pihaknya kemarin juga telah membentuk sebuah tim. Tim terdiri atas enam dokter spesialis dan seorang ulama dari Majelis Ulama Indonesia Samarinda.
Para dokter yang menjadi anggota tim merupakan dokter terbaik di bidangnya. Ada ahli bedah, ahli bedah tulang, ahli jiwa, ahli laboratorium, ahli rontgen, dan ahli penyakit dalam. “Kita full team, makanya kami kerahkan semua para dokter spesialis terkait untuk penanganan Ibu Noor itu. Bahkan, semua perangkat medis yang dimiliki RSU AW Syahrani akan kami turunkan,” kata Ajie, Kamis (10/7).
KH Zaini Naim, Ketua MUI Samarinda, membenarkan telah dihubungi RSU AW Syahrani untuk terlibat dalam tim yang menangani kesembuhan Noorsyaidah dari penyakit aneh yang dideritanya.
“Saya tadi sore ditelepon langsung oleh Direktur RSU AW Syahranie untuk ikut terlibat. Kami dari MUI sangat siap karena penanganan penyakit seperti ini memang harus juga dilakukan dengan pendekatan agama,” kata KH Zaini. “Allah Maha Kuasa, tidak ada satu pun ujian yang diberikan-Nya kepada hamba-Nya tanpa ada obatnya. Karena itu, saya berpesan agar Ibu Noor terus dan tetap berikhtiar, Allah pasti menunjukkan jalan-Nya,” katanya.
SURABAYA – Tentang apa yang dialami Noorsyaidah, spesialis penyakit dalam Prof Dr dr HR Moh Yogiantoro Sp PD-KGH menduga kuat kondisi itu sebagai sesuatu di luar jangkauan diagnosa medis. Namun, dari sisi medis, mungkin saja sebagai manusia Noorsyaidah mengalami kelainan anatomi, metabolisme, dan kejanggalan (anomali) lain seperti tumor dan kanker sehingga muncul kawat-kawat dari perut dan dadanya.
2. Supranatural
Menurut pemerhati dan praktisi supranatural, KH Ir Agus Ubaidilah, ketika ditanya tentang kasus yang dialami Noorsyaidah membenarkan bahwa penyakit yang diderita wanita itu terjadi akibat kiriman benda gaib` yang dibuat oleh manusia. Untuk pengobatannya, lanjut Agus, tidak bisa dilakukan melalui medis.
“Kalaupun dia pernah menggunakan pengobatan medis ternyata berhasil, tapi begitu kembali ke Samarinda kawat itu ternyata bermunculan lagi. Ini menunjukkan bahwa penyakitnya sudah di luar medis,” kata KH Agus Ubaidilah yang lebih akrab dipanggil Pak Agus ini.
Dari penerawangan jarak jauh yang dilakukannya dengan melihat foto dan ejaan nama Noorsyaidah, pria yang tinggal di Sidoarjo ini mengaku, ada sesuatu yang buruk yang ditanamkan di rumah Noorsyaidah. Hal buruk itulah yang kemudian membuat munculnya kawat-kawat dari perut dan dadanya. “Perlu proses penanganan yang panjang untuk mengobati ibu ini. Karena hal gaib itu telah ditanamkan pada dirinya sejak lama,” kata Agus.
PARANORMAL Ki Joko Bodo sepakat bila dikatakan penyakit yang kini diderita Noorsyaidah bukanlah penyakit biasa, tak bisa disembuhkan secara medis.
Apa yang dialami Noorsyaidah, menurut ramalannya, dilakukan oleh orang yang pernah sakit hati. Ki Joko Bodo meyakini pula, Noorsyaidah semasa hidupnya pernah menyakiti hati seseorang.
Tak sulit sebetulnya menurut Ki Joko Bodo untuk agar penyakit itu hilang. Yang diperlu dilakukan Noorsyaidah kini, adalah mencari tahu siapa orang yang pernah disakitinya. Kemudian, meminta maaf atas segala yang pernah ia lakukan kepada orang itu.
Ia berani menjamin, penyakit Noorsyaidah tak akan bisa disembuhkan dengan pengobatan medis biasa. Dokter manapun, diakuinya akan sia-sia saja yang tak akan bisa disembuhkan dengan tekhnologi manapun juga. Penyakit irasional, sebut Ki Joko Bodo, hanya bisa disembuhkan dengan cara yang irasional pula.
Mengaku penasaran, Ki Joko Bodo berjanji akan mengunjungi Noordsyaidah. Selain ingin melihat secara langsung penyakit yang dideritanya, Ki Joko Bodo ingin berusaha membantu mengobati dengan apa yang bisa ia lakukan.
Mbah Liem, paranormal yang terkenal di Kaltim karena sepak terjang ritualnya mendampingi Bupati (nonaktif) Kutai Kartanegara Syaukani Hasan Rais sepakat dengan Ki Joko Bodo bahwa Noorsyaidah terkena santet.
Ia mengatakan, yang menyantet Noorsyaidah adalah pendatang, bukan suku asli Kalimantan. Untuk bisa sembuh, Noorsyaidah harus diobati dengan ritual sajen adat si penyantet tersebut.
Seperti halnya Ki Joko Bodo, Mbah Liem juga mengatakan, santet itu tidak mungkin disembuhkan dengan cara berobat ke dokter. Ketika diajak untuk menyembuhkan Noorsyaidah, Mbah Liem mengaku siap. Ia mengatakan akan berangkat ke Kaltim dengan catatan ada orang yang mau mempersiapkan syarat-syaratnya. Syarat-syarat yang dimaksudnya itu adalah bagian yang harus dipenuhi dalam ritual penyembuhan.
Seperti kelapa muda, ayam hitam, dan telur. Sebagai media perantara dengan penyantet, Mbah Liem meminta potongan kawat yang telah diambil dari perut Noorsyaidah. “Insya Allah bisa sembuh. Saya butuh kawat dari perutnya itu perlu sebagai media penghubung. Nanti akan muncul wajah yang menyantet dari dalam air yang saya taruh pada mangkuk. Saya akan serang balik dan mengobat. Tidak perlu takut, saya akan korbankan binatang. Nanti kalau syarat-syarat ini dipenuhi saya akan datang dan bisa disaksikan bagaimana ritualnya,” kata Mbah Liem.
Pemerhati dan praktisi supranatural , KH Ir Agus Ubaidilah, ketika ditanya tentang kasus yang dialami Noorsyaidah membenarkan bahwa penyakit yang diderita wanita itu terjadi akibat kiriman benda gaib yang dibuat oleh manusia. Untuk pengobatannya, tutur Agus, tidak bisa dilakukan melalui medis.
Dari penerawangan jarak jauh yang dilakukannya dengan melihat foto dan ejaan nama Noorsyaidah, pria yang tinggal di Sidoarjo ini mengaku, ada sesuatu yang buruk yang ditanamkan di rumah Noorsyaidah. Hal buruk itulah yang kemudian membuat munculnya kawat-kawat dari perut dan dadanya.
REALISASI TINDAKAN MEDIS
Rabu, 09 Juli 2008, Direktur Rumah Sakit Umum (RSU) AW Syahrani Samarinda dr Ajie Syirafuddin DHM MMR benar-benar memenuhi janjinya untuk menemui dan melihat langsung kondisi Noorsyaidah. Ajie datang bersama rombongan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim Sutarnyoto ke Jalan Merdeka III, Samarinda Ilir.
Tiba sekitar pukul 09.30 Wita, mereka disambut suka cita Noorsyaidah dan keluarganya. Apalagi niat kedatangan Dirut RSU AW Syahrani dan dinkes tersebut untuk memberikan pelayanan dan tempat khusus di RSU AW Syahrani tanpa memungut bayaran.
Ajie bahkan sempat beberapa saat memegangi perut Noor untuk memastikan bahwa besi kawat yang tumbuh itu benar-benar timbul dari dalam, bukan rekaan. “Ini memang kawat asli, bukan kawat bentukan. Bahkan ternyata tidak hanya yang muncul di luar saja, tapi setelah saya periksa di dalam perut Ibu Noor juga ada kawat-kawatnya. Luar biasa dan di luar jangkauan ilmu medis ini namanya,” ujar Ajie yang tak bisa menyembunyikan rasa herannya.
Ajie juga mengambil contoh kawat untuk diteliti di laboratorium RSU AW Syahrani. “Jadi selain menyediakan ruangan dan pelayanan khusus buat Ibu Noor, RSU AW Syahrani juga akan menguji laboratorium kawat-kawat yang tumbuh di perut Ibu Noor itu, kita tunggu saja dalam dua atau tiga hari ini, mudah-mudahan sudah ada hasil dari uji lab itu,” terangnya.
Kepala Dinkes Kaltim Sutarnyoto juga tak bisa menyembunyikan keterkejutannya setelah melihat langsung kondisi Noorsyaidah. Sutarnyoto langsung membenarkan bahwa kawat tersebut memang asli. “Yang jelas kami sudah melihatnya langsung, karena itu dalam dua atau tiga hari ini juga, sembari menunggu hasil uji laboratorium RSU AW Syahrani atas sample kawat itu, kami akan segera melaporkan perkembangannya kepada Departemen Kesehatan (Depkes) di Jakarta,” kata Sutarnyoto.
Pada malam harinya, sekitar pukul 22.00, Kepala Rumah Sakit Umum Sangatta dr Andi Baji bersama rombongan juga tiba di tempat Noorsyaidah. Menurut Andi Baji, RSU Sangatta juga menawarkan perawatan khusus. “Dia kan bekerjanya di Sangatta, jadi pengobatan akan lebih mudah dilakukan jika dari RS setempat. Mudah-mudahan maksud kedatangan kami yang langsung dari Sangatta ini disambut baik oleh Ibu Noor dan dia mau dirawat oleh kami,” ujarnya.
Jumat (11/7) pagi Noorsyaidah dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) AW Syahranie. Ia memulai tahap pengobatan. Tim dokter yang dipimpin langsung oleh Direktur RSUD AW Syahranie, dr Ajie Syirafuddin menjemput Noorsyaidah di rumahnya sekitar pukul 08.00 WITA.
Pukul 09.30 WITA, Noorsyaidah tiba di RSUD AW Syahranie, Jl Dr Soetomo, Samarinda. Noorsyaidah kemudian masuk ke ruang MSCT Scaning dan berlangsung selama 20 menit. Setelah itu ia masuk ke ruangan sinar X.
“Ini masih tahap awal. Kami baru melakukan diagnosa. Belum tahu hasilnya, karena masih mengumpulkan data-data. Setelah proses ini selesai, akan kami rapatkan. Hasilnya nanti kami informasikan kepada keluarga. Untuk langkah selanjutnya kami serahkan kepada keluarga, apakah mereka siap atau tidak,” ujar Ajie.
” CEPAT SEMBUH YA BU….!”






bagi yang tahu alamatnya ibu Noorsyaidah tolong kirim ke yongky_persatuanumatislam@ymail.com INSYAALLAH kami bisa bantu. trims
Coba saya carikan ya Pak Yongky, dan saya juga turut mendoakan semoga usaha Bapak dan teman-teman lainnya berhasil.
kami ikt prhtin dgn penykt yg dialami ibu Nursyaidah. mdh2n cpt smbuh.dan km jg mau bnt ibu, jika berkenan. datanglah k padang_sumbar. km prnh nemui kasus mirip dgn ini tp yg kluar bukan kawat melaikn batu kecil
dari info katanya penyakit tsb pernah “sembuh” ketika di obati di Surabaya, tapi tumbuh lagi ketika nursaidah kembali ke samarinda. jadi saran saya, mungkin penyakit nursaidah tidak kambuh lagi jika dia tidak kembali ke samarinda ataupun ke kalimantan. mungkin bisa sembuh jika dia tinggal di pulau lain (hijrah). dan bersilaturrahmi atau tinggal bersama keluarga yang taat beragama, di luar pulau kalimantan.. bisa dicoba di rumah vivi teman saya, alamatnya di jl.ophir, jakarta selatan (wallahu’alam)
ya benar! mungkin bisa dicoba pendapat ahmad tsb. tapi jangan di rumah saya, sempit. (maaf) maksudnya begini, kiriman ghaib dari orang lain katanya tidak bisa melintasi lautan/samudera?
Terakhir saya sempat juga dapat info bahwa penyakit tersebut diduga krn disengaja untuk popularitas, krn banyak pihak yg sdh berusaha untuk menawarkan bantuan ditolak oleh beliau dengan alasan bahwa penyakit beliau hanya mau disembuhkan dengan cara2 muslim (doa2) bukan dengan medis ataupun lainnya. Entah benar atau tidaknya kabar tersebut saya belum mendapatkan informasi lebih lanjut.
Subhanallah saya baru tahu ada penyakit seperti ini. Saya tidak bisa membuat penilaian tentang penyakit ini. Bagimana keadaan ibu Noorsyaidah sekarang ya? ada yang tahu? Doa saya semoa Allah SWT memberikan kesembuhan kepada ibu Noorsyaidah.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Cara yg terbaik untuk penyembuhan ibu noorsyaidah adalah berkomunikasi langsung pada makhluk yg ada ditubuhnya.
Cara seperti ini sering saya dan adik saya praktekkan dan insyaAllah atas hidayah Allah, makhluk tersebut mau masuk agama Allah.
Muslim yg cinta kepada Allah adalah yg menolong agama Allah.
Apakah ada cinta yg lebih besar dari pada ini?
Ibu noorsyaidah sebenarnya tidak kena santet cuma atas kecemburuan orang yg Zholim terhadap beliau.Beliau insyaAllah pernah diberikan makanan dari seseorang!
Wassalam,
Sayyid.
Bu Noor harus menjauh dari tempat tinggalnya dimana dia sering mengeluarkan kawat